a. Introduction
Pembelajaran Kelipatan Persekutuan
Terkecil (KPK) pada kelas IV di SD N 21 Palembang yang dibawakan oleh
Nila, Sasa, Rully, dan ditemani oleh bu Neti, selaku guru kelas, serta
diikuti oleh 23 siswa. Sebelum memulai pembelajaran, kami mendapatkan
informasi dari bu Neti, bahwa beliau telah mengajarkan materi kelipatan
kepada siswa. Sehingga, kami mendisain pembelajaran, yang dimulai dengan
me-review kembali materi tersebut dengan permainan “tepuk
bergilir”, kemudian menggiring mereka untuk lebih memahami apa itu
kelipatan. Selanjutnya, dengan permainan tersebut, kami meningkatkan
level nya, dengan membagi mereka menjadi 2 kelompok dan melakukan
permainan diatas secara bersamaan. Tujuan-nya untuk menggiring mereka ke
arah pembelajaran persekutuan. Akhirnya, setelah tahap pertama dan
kedua sudah mereka pahami secara mendalam, pembelajaran ditutup dengan
mencari bilangan terkecil dari persekutuan bilangan sebelumnya, sehingga
mereka dapat mencari nilai KPK dari 2 bilangan yang diberikan.
Penjelasan mengenai proses pembelajaran dan tata cara permainan “tepuk
bergilir”, akan saya jelaskan pada bagian selanjutnya.
b. Goal
Adapun tujuan dari observasi ini adalah
untuk mengetahui efek dari permainan tepuk tangan secara bersamaan
(tepuk bergilir) terhadap pembelajaran KPK.
c. Observation Question
Observation Question dalam observasi ini adalah Apakah terdapat efek dari permainan “tepuk bergilir” pada pembelajaran KPK?
d. Data-Description
Kami memasuki kelas di temani oleh bu Neti dan melakukan sedikit ice breaking
berupa permainan sederhana, untuk meningkatkan kosentrasi para siswa.
Setelah itu, kami mulai dengan membagi siswa ke dalam 2 kelompok besar,
untuk memulai permainan “tepuk bergilir”.
Berikut ini, merupakan langkah-langkah yang diambil dalam proses pembelajaran KPK, menggunakan permainan “tepuk bergilir”:
1. Memberikan masalah kontekstual yang
realistik sebagai upaya mengenalkan konsep kelipatan. Contoh: kami
memberikan permainan “tepuk bergilir”, dengan aturan, saya selaku juri,
menyebutkan angka satu sampai tiga puluh secara berurutan di depan kelas
dan setiap angka yang saya sebutkan merupakan angka kelipatan dari 2
(dalam hal ini, siswa sudah mengenal kelipatan terlebih dahulu), maka
siswa harus melakukan tepuk tangan sebanyak satu kali.
2. Tahap pemecahan masalah dan menemukan
konsep kelipatan. Pada tahap ini, para siswa, dengan bantuan guru
diarahkan untuk dapat mengikuti permainan ini, tanpa melakukan
kesalahan. Pada awal-awal permainan, banyak siswa yang melakukan
kesalahan terutama pada saat kelipatan-kelipatan, yang melebihi angka 3;
misalnya, kelipatan 4, 5, dst. Untuk itu, kami memperbolehkan siswa,
terlebih dahulu mendata angka-angka yang merupakan kelipatan dari angka
yang diminta. Sehingga, saat melakukan permainan, tidak melakukan
kesalahan.
Selanjutnya, kami meningkatkan tingkat
kesulitan permainan, dengan membagi kelas menjadi 2 kelompok, dimana
kelompok yang pertama, melakukan tepuk tangan pada angka-angka yang
merupakan kelipatan dari 2 dan kelompok kedua, melakukan tepuk tangan
pada angka-angka yang merupakan kelipatan dari 3.
3. Tahap diskusi. Pada tahap ini, setelah
melakukan permainan, para siswa diarahkan untuk mendiskusikan permainan
diatas, dengan menanyakan kapan mereka melakukan tepuk tangan secara
bersamaan dan bagaimana mereka mendata kelipatan dari angka-angka yang
diminta.
Kami menemukan upaya siswa dalam mendata kelipatan dari angka-angka yang diminta, adalah sebagai berikut:
- Siswa, mengurutkan angka, mulai dari
yang terkecil (angka kelipatan yang diminta), kemudian melakukan
perkalian 1 sampai 10, terhadap angka kelipatan yang diminta. Kemudian,
melingkari angka-angka yang sama dari kedua kelipatan yang diberikan.
- Siswa, mengurutkan angka, mulai dari
yang terkecil (angka kelipatan yang diminta), kemudian melakukan
penambahan sejumlah angka kelipatan yang diminta sebanyak 10 kali.
Kemudian, melingkari angka-angka yang sama dari kedua kelipatan yang
diberikan.
4. Tahap refleksi. Pada tahap ini,
anak-anak diajak merefleksikan apa yang telah dikerjakan dan apa yang
telah dihasilkan, dengan menyampaikan dan menuliskan pendapatnya di
depan kelas. Disini, para siswa sangat antusias dalam menyampaikan
pendapatnya, walaupun ada satu orang yang melakukan kesalahan, saya
selaku pengajar, tidak langsung mengatakan itu sebagai suatu kesalahan,
tapi saya menanyakan (baca: mendiskusikan) kepada siswa yang lain,
mengenai jawabannya dan akhirnya, dia bisa menyadari kesalahan yang dia
buat dengan sendirinya.
5. Tahap selanjutnya adalah membantu
siswa mengaitkan permainan tepuk tangan secara bersamaan yang pertama
kepada konsep kelipatan dan kedua kepada konsep persekutuan, selanjutnya
dari kedua pemahaman tersebut, kami menggiring siswa untuk mencara
angka terkecil dari angka persekutuan yang telah mereka data. Dalam hal
ini, berhubung di kelas tersebut ada seorang siswa terkecil di kelas
yang bernama Rasid, jadi dia dikaitkan dengan konsep KPK (karena Rasid
yang terkecil di kelas, jadi kalau lihat Rasid, ingat KPK). Perlu
diketahui, dalam pembelajaran ini, semua istilah diatas, mulai dari
Kelipatan, Persekutuan, dan Terkecil (baca: KPK), diketemukan oleh siswa
sendiri. Kami selaku pengajar, hanya menggiring mereka ke arah sana,
dengan permainan diatas. Ada hal menarik ketika memunculkan kata
“persekutuan”, karena pada awalnya mereka mengatakan persekutuan, dengan
menggunakan kata galo-galo (bahasa Palembang yang artinya
bersama-sama). Ini didasarkan pada permainan tepuk tangan diatas, dimana
ketika mereka bertepuk tangan bersama-sama, padahal kelipatannya
berbeda.
6. Tahap akhir, anak-anak diajak untuk
mengembangkan, memperluas, dan meningkatkan hasil-hasil dari pemahaman
mereka, dengan mengerjakan beberapa soal-soal yang ada di buku panduan
mereka, dan hasilnya, mereka dapat dengan cepat mengerjakannya.
e. Analysis
Permasalahan utama yang kami temukan
dalam observasi ini adalah bagaimana menanamkan konsep kelipatan kepada
para siswa. Karena dengan mengetahui konsep kelipatan, para siswa akan
lebih mudah di bawa ke konsep persekutuan dan diakhiri dengan mencari
persekutuan terkecil dari hasil persekutuan yang telah mereka data
sebelumnya.
Untuk itu, kami membuat permainan “tepuk
bergilir”, untuk mempermudah mereka memahami konsep kelipatan, yang
sebelum-nya telah mereka dapatkan dari bu Neti, selaku guru kelas
mereka, yang mungkin, masih menggunakan metode tradisional (baca:
hafalan perkalian). Di sisi lain, dengan permainan ini, mereka diberi
kebebasan untuk menggunakan pengetahuan yang mereka punya dalam
pendataan kemudian, mengingatkannya (mengulanginya) kembali dengan
permainan tersebut. Pada dasarnya, anak-anak akan lebih mudah memahami
suatu pelajaran, ketika mereka menikmati pelajaran tersebut, salah
satunya dengan bermain sambil belajar.
Dalam PMRI, kami mengenal yang namanya iceberg,
yang digunakan untuk mendeskripsikan proses pemahaman siswa dari
sesuatu yang real (dapat dibayangkan oleh siswa) menuju punjak dimana
mereka mampu untuk memahami simbol matematika yang bersifat abstrak,
dalam kasus ini KPK. Berikut ini merupakan iceberg dari aktifitas yang kami lakukan dalam pembelajaran KPK pada kelas IV A di SD 21 Palembang.
f. Conclusion
Berdasarkan atas kegiatan yang kami lakukan diatas, kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
- Awalnya, siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti permainan “tepuk bergilir”. Akan tetapi, setelah mereka mendata terlebih dahulu, setiap kelipatan dari angka yang diberikan, mereka bisa dengan mudah mengikuti permainan tersebut tanpa melakukan kesalahan.
- Permainan tersebut membuat mereka lebih memahami konsep kelipatan. Ini dikarenakan sifat dasar anak-anak yang lebih mudah memahami suatu pelajaran dengan cara bermain atau bisa dikatakan dengan bermain sambil belajar.
- Setelah para siswa memahami konsep kelipatan, kami dapat dengan mudah memandu mereka mengenal apa itu persekutuan, selanjutnya mencari KPK. Dengan pemahaman konsep yang mereka bangun sendiri, mereka dapat dengan mudah menyelesaikan soal-soal yang ada di dalam buku panduan mereka.
- Permainan “tepuk bergilir” dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran KP




